Benarkah Dipingsankan Terlebih Dahulu Lebih Baik Daripada Disembelih dalam Keadaan Sadar? | Cara Penyembelihan Hewan Kurban

Cara Penyembelihan Hewan Kurban: Benarkah Dipingsankan Terlebih Dahulu Lebih Baik Daripada Disembelih dalam Keadaan Sadar?

Beberapa waktu (tahun 2011) yang lalu tempointeraktif[dot]com memuat berita tentang Pelarangan Pemotongan Hewan Secara Islami di Belanda.

Di antara kutipannya adalah:
"...parlemen Belanda kemarin mengesahkan sebuah undang-undang yang melarang menyembelih binatang tanpa dibius."
"Undang-undang itu diajukan oleh Partai Hewan (Party for the Animals), satu-satunya partai perlindungan hewan di dunia yang memiliki wakil di parlemen..."
Tulisan ini bertujuan untuk memberi referensi tambahan bagi yang membutuhkan dimana sudah pernah ada penelitian tentang metode pemotongan hewan yang lebih 'berperikehewanan'. Judulnya "Attemps to Objectify Pain  and Consciousness in Conventionanl (captive bold pistol stunning) and Ritual (knife) Methods of Slaughtering Sheep and Calves". Tujuan penelitian ini adalah untuk mengukur rasa sakit yang diderita hewan ketika disembelih dengan dua cara atau metode yaitu:

  1. Disembelih dalam keadaan sadar dengan menggunakan pisau.
  2. Dipingsankan terlebih dahulu, kemudian disembelih.

    Penelitian ini dilakukan antara tahun 1974-1978 oleh Prof. Wilhelm Schulze dan Dr. Hazim, keduanya berafiliasi dengan Hannover University, Jerman.
Berikut penjelasan dan hasil penelitiannya:

Proses penelitian

  1. Di bagian kepala, dekat permukaan otak kecil hewan yang dijadikan sampel (selanjutnya disebut 'hewan sampel') dipasang elektroda/microchip yang disebut Electro-Encephalograph (EEG). Alat ini dipasang pada titik yang menerima rasa sakit di otak.
  2. Di bagian jantung, dipasang Electro-Cardiograph (ECG) untuk merekam aktivitas jantung ketika darah tersembur pada saat hewan sampel disembelih.
  3. Selama penelitian grafik EEG dan ECG dicatat untuk merekam keadaan otak dan jantung selama proses pemotongan hewan (sebelum-ketika-sesudah).
Keywords: EEG, otak, rasa sakit | ECG, jantung, aktivitas jantung 

Analisa dan penjelasan

Berikut adalah analisa dan penjelasan dari masing-masing metode penyembelihan hewan baik yang dilakukan ketika hewan dalam keadaan sadar maupun ketika hewan dipingsankan terlebih dahulu.

Metode 1: Pemotongan hewan dengan menggunakan pisau dan dalam keadaan sadar





  1. Dalam rentang waktu 3 detik setelah disembelih (pada saat ini ketiga saluran pada leher hewan sampel bagian depan telah terputus ) tidak ada perubahan pada grafik EEG, dengan kata lain tidak ada indikasi hewan sampel mengalami rasa sakit ketika disembelih.
  2. Selama 3 detik berikutnya, grafik EEG menurun secara bertahap -seperti pada kejadian tidur nyenyak-, grafik ini terus menurun sampai hewan sampel benar-benar kehilangan kesadaran (inconsciousness). Pada saat ini juga grafik ECG mulai meningkat aktivitasnya.
  3. Setelah 6 detik yang tadi, ECG merekam adanya aktivitas yang luar biasa dari jantung untuk menarik darah sebanyak mungkin dari seluruh tubuh dan memompanya keluar (darah tersembur keluar melalui urat leher yang telah terputus). Aktivitas ini terjadi karena adanya gerak refleks antara trio otak kecil, jantung, sumsum tulang belakang (spinal cord). Pada saat darah tersembur ini, grafik EEG justru terus turun sampai ke level zero (angka nol). Schulze dan Hazim menyebutnya dengan 'No feeling of pain at all'.
  4. Karena darah dari seluruh tubuh disedot oleh jantung secara maksimal, lalu dikeluarkan dengan tekanan penuh melalui urat leher yang telah terputus maka dihasilkan daging sehat dan segar yang diyakini sangat sesuai dengan prinsip Good Manufacturing Practice (GMP).

Metode 2: Pemotongan hewan dengan metode dipingsankan terlebih dahulu




  1. Hewan sampel dipingsankan; pingsan (collaps); lalu disembelih (darah yang keluar sedikit, tidak sebanyak ketika disembelih dengan pisau dan dalam keadaan sadar).
  2. Setelah dipingsankan, terjadi kenaikan yang signifikan pada grafik EEG, dengan kata lain hewan sampel mengalami rasa sakit segera setelah dipingsankan.
  3. Ketika grafik EEG meningkat tajam justru grafik ECG drop sampai level terendah, dengan kata lain rasa sakit yang luar biasa menyebabkan jantung berhenti bekerja lebih awal. Karena jantung sudah berhenti bekerja lagi akibatnya darah yang masih tertinggal di tubuh hewan sampel gagal untuk dipompa keluar, sehingga masih banyak darah yang tertinggal di tubuh hewan sampel.
  4. Banyaknya darah yang tertinggal menyebabkan daging yang dikonsumsi juga tidak sehat. Timbunan darah yang tak sempat keluar ini merupakan tempat yang sangat ideal untuk pertumbuhan bakteri pembusuk sebagai agen utama perusak kualitas daging.

Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian Schulze & Hazem didapat kesimpulan bahwa pemotongan hewan dengan pisau dan dalam keadaan sadar itu lebih baik ketimbang metode pemotongan hewan dengan dipingsankan terlebih dahulu. Selain itu, daging yang dihasilkan dari metode pemotongan dalam keadaan sadar ini juga memenuhi standar Good Manufacturing Practice (GMP)

Dari kedua metode penyembelihan hewan tersebut dapat dilihat bahwa metode penyembelihan hewan secara Islam memberikan rasa sakit yang lebih rendah bagi hewan dan menghasilkan kualitas daging yang lebih baik untuk dikonsumsi dibandingkan dengan cara dipingsankan terlebih dahulu.

Referensi:

  1. must be halal on facebook (tanggal akses, 29 Juni 2011)
  2. en.wikipedia.org/wiki/Wilhelm Schulz (professor of veterinary medicine) (tanggal akses, 29 Juni 2011)
  3. mustaqim.co.uk/halalstudy (tanggal akses, 29 Juni 2011)
  4. en.wikipedia.org/wiki/Captive bolt pistol (tanggal akses, 29 Juni 2011)

Postingan populer dari blog ini

Mengapa kita harus niat dan ikhlas dalam beramal?

Niat dan Keutamaan Puasa Asyura 10 Muharram

Ukuran Satuan Kilogram akan Didefinisikan Ulang oleh Ilmuwan Metrologi