Mengapa kita harus niat dan ikhlas dalam beramal?

Keutamaan niat dan ikhlas dalam beramal

Pentingnya meluruskan niat dan ikhlas dalam beramal dapat kita pelajari dari kitab Riyadhus Shalihin karya Imam An Nawawy.

Ayat-ayat Al Quran mengenai keutamaan niat dan ikhlas dalam beramal

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, yang artinya:
"Mereka tidaklah diperintah kecuali supaya menyembah kepada Allah dengan ikhlas dalam (menjalankan) agama yang lurus, mendirikan sholat, dan menunaikan zakat. Itulah agama yang lurus."
(Al Quran, Surah Al Bayyinah (98) ayat 5)



Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, yang artinya:
"Tidaklah sampai kepada Allah daging dan darah kurban tetapi yang sampai kepada-Nya adalah taqwa dari kamu sekalian."
(Al Quran, Surah Al Hajj (22) ayat 37)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, yang artinya:
"Katakanlah: Jika kamu sekalian merahasiakan atau menampakkan apa yang terkandung di dalam dadamu, niscaya Allah mengetahuinya."
(Al Quran, Surah Ali Imran (3) ayat 29)

Kumpulan hadits shahih mengenai keutamaan niat dan ikhlas dalam beramal

Hadits-hadits yang menjelaskan keutamaan dalam niat dan ikhlas dalam beramal adalah:
  1. Dari Amirul Mukminin Abu Hafsh 'Umar bin Khaththab bin Nufail bin 'Abdul 'Uzza bin Riyah bin 'Abdullah bin Qurth bin Razah bin 'Ady bin Ka'b bin Luayy bin Ghalib Al Quraisy Al 'Adawy ra. berkata: "Saya mendengar Rasulullah Sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Bahwasanya semua amal itu tergantung niatnya, dan bahwasanya apa yang diperoleh oleh seseorang adalah sesuai dengan apa yang diniatkannya. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan rasul-Nya maka hijrahnya itu akan diterima oleh Allah dan rasul-Nya, dan barangsiapa yang berhijrah karena mencari dunia atau karena wanita yang akan dinikahinya maka hijrahnya itu hanya akan memperolah apa yang diniatkannya dalam hijrahnya itu."
    (Hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim).

  2. Dari Ummul mukminin Ummu 'Abdillah 'Aisyah ra. berkata, bahwasanya Rasulullah Sholallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Nanti akan ada sekelompok pasukan yang akan menyerang Ka'bah, kemudian ketika mereka tiba di suatu tanah lapang maka dibinasakanlah mereka semua mulai dari yang paling depan sampai yang paling belakang," 'Aisyah berkata: "Saya bertanya, Wahai Rasulillah bagaimanakah mereka bisa dibinasakan semua mulai dari yang paling depan hingga yang paling ahir padahal di antara mereka ada orang yang akan berbelanja serta ada pula orang yang tidak membantu mereka." Rasulullah Muhammad sholallahu 'alaihi wa salam menjawab: "Mereka dibinasakan dari yang paling depan hingga paling belakang kemudian nanti mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niat masing-masing dari mereka.
    (Hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim)

  3. Dari 'Aisyah ra. berkata, Nabi Sholallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Tidak ada hijrah lagi setelah ditaklukannya kota Mekkah, tetapi yang tetap ada yaitu jihad (berjuang di jalan Allah) dan niat untuk selalu berbuat baik. Oleh karenanya jika kamu sekalian dipanggil untuk berjuang maka berangkatlah.
    (Hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim)

  4. Dari Abu 'Abdillah bin Jabir bin 'Abdillah Al Anshary ra. berkata: "Dalam salah satu peperangan kami bersama dengan Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa salam kemudian beliau bersabda: "Sesungguhnya di Madinah ada beberapa orang yang apabila kamu melalui jalan atau menyeberangi lembah niscaya mereka senantiasa mengikuti kamu sekalian, yang mencegah mereka hanyalah sakit." Pada riwayat yang lain: "...melainkan mereka selalui menyertai kamu sekalian di dalam mencari pahala...."
    (Hadits riwayat Imam Muslim)

  5. Di riwayatkan oleh Bukhari dari Anas ra. dimana ia berkata: "Kami bersama-sama dengan Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa salam kembali dari peperangan Tabuk, kemudian beliau bersabda: "Sesungguhnya masih ada beberapa orang yang kami tinggalkan di Madinah dimana mereka senantiasa menyertai kami baik sewaktu kami keluar masuk pedusunan maupun sewaktu kami menyeberangi lembah, yang mencegah mereka hanyalah halangan."

  6. Dari Abu Yazid Ma'n bin Yazid bin Al Akhnas ra. dimana dia, bapaknya dan kakeknya adalah sahabat; ia berkata: "Ayah saya Yazid mengeluarkan beberapa dinar untuk bersedekah, kemudian ayah mempercayakan kepada orang yang berada di dalam masjid (untuk membagi-bagikan sedekah tersebut). Saya datang ke masjid dan meminta dinar itu, kemudian saya datang ke tempat ayah saya dengan membawa dinar itu, lantas ayah berkata: "Demi Allah, bukan untuk kamu dinar itu aku siapkan." Kemudian peristiwa itu saya sampaikan kepada Rasulullah Muhammad Shalallahu 'alaihi wa salam, maka beliau bersabda: "Bagimu apa yang kau niatkan wahai Yazid, dan bagimu apa yang kau ambil wahai Ma'n."
    (Hadits riwayat Imam Bukhari)

  7. Dari Abu Ishak Sa'ad bin Abi Waqqash Malik bin Uhaib bin 'Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab bin Murrah bin Ka'b bin Luayy Al Quraisy Az Zuhry ra. salah seorang diantara sepuluh orang yang djamin masuk surga, ia berkata: "Rasulullah Muhammad Shalallahu 'alaihi wa salam menjenguk saya pada musim haji wada' karena saya mengalami sakit keras, kemudian saya berkata: "Wahai Rasulullah, sesungguhnya sakit saya ini sangat keras sebagaimana yang tuan lihat, sedangkan saya mempunyai harta yang cukup banyak dan yang mewarisi hanyalah seorang anak perempuan, maka bolehkah saya sedekahkan dua pertiga dari harta saya itu?"
    Beliau menjawab: "Tidak boleh!"
    Saya bertanya: "Bagaimana jika setengahnya wahai Rasulullah?"
    Beliau menjawab: "Tidak boleh!"
    Saya bertanya lagi: "Kalau sepertiganya wahai Rasulullah?"
    Beliau menjawab: "Sepertiga itu cukup banyak dan cukup besar. Sesungguhnya bila kamu meninggalkan ahli warismu dalam keadaan kaya maka itu lebih baik bila dibandingkan apabila kamu meninggalkan mereka dalam keadaan miskin, sehingga mereka terpaksa meminta-minta kepada sesama manusia. Sesungguhnya apa yang kamu nafkahkan dengan mengharap ridha Allah, pasti kamu akan diberi pahala karenanya termasuk apa yang dimakan oleh istrimu."
    Abu Ishak berkata: "Kemudian saya bertanya, wahai Rasulullah apakah saya akan segera berpisah dengan kawan-kawanku?"
    Beliau menjawab: " Sesungguhnya kamu belum akan berpisah. Kamu masih akan menambahkan amal apa yang kamu niatkan untuk mencari ridha Allah sehingga akan bertambah derajat dan kemuliaanmu. Dan barangkali kamu akan segera meninggal setelah orang-orang dapat mengambil manfaat dari kamu, di samping ada juga orang-orang yang merasa dirugikan oleh kamu. Wahai Allah, lanjutkanlah bagi sahabat-sahabatku hijrah mereka dan janganlah Engkau mengembalikan mereka ke tempat yang mereka tinggalkan, tetapi kasihan si Sa'd bin Khaulah yang selalu disayang oleh Rasulullah karena ia mati di Mekkah."
    (Hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim)

  8. Dari Abu Hurairah 'Abdurrahman bi Shakhr ra. berkata, Rasulullah Muhammad Shalallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Sesungguhnya Allah Ta'ala tidak melihat bentuk tubuhmu dan tidak pula melihat ketampananmu tetapi Allah melihat hatimu."
    (Hadits riwayat Imam Muslim)

  9. Dari Abu Musa 'Abdullah bin Qais Al Asy'ary ra. berkata: " Rasulullah Muhammad Shalallahu 'alaihi wa salam ditanya tentang seseorang yang berperang karena keberaniannya, berperang karena kesukuannya, dan berperang karena riya'; manakah yang termasuk berperang pada jalan Allah?" Rasulullah bersabda: "Barangsiapa yang berperang agar kalimah Allah menjadi terangkat, maka itulah perang pada jalan Allah."
    (Hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim)

  10. Dari Abu Bakrah Nufai' bin Al Harits Ats Tsaqafi ra. bahwasanya Nabi Muhammad Shalallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Apabila ada dua orang Islam yang bertengkar dengan pedangnya masing-masing maka orang yang membunuh dan orang yang terbunuh sama-sama berada dalam neraka."
    Saya bertanya: "Wahai Rasulullah, yang membunuh sudah wajar kalau berada di neraka, kemudian kenapa orang yang terbunuh juga masuk neraka?"
    Beliau menjawab: "Karena ia sangat berambisi untuk membunuh kawannya."
    (Hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim)

  11. Dari Abu Hurairah ra. berkata, Rasulullah Muhammad Shalallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Shalat seseorang dengan berjamaah itu pahalanya lebih banyak daripada ia shalat sendirian di pasar atau di rumahnya, selisih dua puluh derajat lebih. Yang demikian itu karena bila seseorang telah menyempurnakan wudhunya kemudian pergi ke masjid yang tiada tujuan lain kecuali untuk sholat dan tiada yang mendorongnya ke masjid kecuali untuk sholat maka setiap kali ia melangkah diangkatlah satu derajat dan diampuni satu dosa, sehingga ia masuk ke dalam masjid. Apabila ia berada di dalam masjid maka ia dianggap melaksanakan sholat selama ia menunggu saat sholat dilaksanakan, dan para malaikat memintakan rahmat kepada salah seorang di antara kamu sekalian selama ia duduk di tempat yang untuk mengerjakan sholat, dimana para malaikat berdoa: "Wahai Allah, kasihanilah dia, ampunilah dosa-dosanya. Wahai Allah, terimalah taubatnya." Selama ia tidak membuat gaduh dan selama ia tidak berhadats (suci dari najis) di dalam masjid."
    (Hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim)

  12. Dari Abul 'Abbas 'Abdullah bin 'Abbas bin 'Abdul Muththalib ra. dari Rasulullah Muhammad Shalallahu 'alaihi wa salam dimana beliau menceritakan tentang apa yang diterimanya dari Tuhan Yang Maha Pemberkah lagi Maha Luhur, dimana beliau bersabda:" Sesungguhnya Allah Ta'ala mencatat kebaikan-kebaikan dan kejahatan-kejahatan, kemudian dijelaskannya semua itu. Barangsiapa yang bermaksud untuk mengerjakan kebaikan, tetapi ia tidak melaksanakannya maka Allah tetap mencatat baginya satu kebaikan, dan barangsiapa bermaksud untuk mengerjaikan kebaikan lantas ia mengerjakannya maka Allah mencatat baginya sepuluh kebaikan bahkan sampai tujuh ratus kali lipat bahkan sampai berlibat ganda yang tidak terhitung banyaknya. Barangsiapa yang bermaksud untuk berbuat jahat namun ia tidak melaksanakannya maka Allah mencatat baginya satu kebaikan, dan barangsiapa yang bermaksud untuk melaksanakan kejahatan lantas ia mengerjakannya maka Allah mencatat baginya satu kejahatan."
    (Hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim)

  13. Dari Abu 'Abdurrahman 'Abdullah bin 'Umar bin Khaththab ra. berkata: "Saya mendengar Rasulullah Muhammad Shalallahu 'alaihi wa salam bersabda: "Dulu sebelum kamu, ada tiga orang berjalan-jalan kemudian mereka mendapatkan sebuah gua yang dapat dimanfaatkan untuk berteduh, maka mereka pun masuk ke dalamnya. Kemudian ada batu dari atas bukit yang menggelinding dan menutupi pintu gua itu sehingga mereka tidak dapat keluar.
    Salah seorang di antara mereka berkata: "Sesungguhnya tidak ada yang dapat menyelamatkan kamu sekalian dari bencana ini kecuali bila kamu sekalian berdoa kepada Allah Ta'ala dengan menyebutkan amal-amal kebaikan yang pernah kalian lakukan."
    Salah seorang di antara mereka berkata: "Wahai Allah, saya mempunyai ayah dan ibu yang sudah tua renta dan saya biasa mendahulukan memberi minuman susu kepada keduanya sebelum saya memberikannya kepada keluarga dan budak. Pada suatu hari saya terlambat pulang dari mencari kayu dan saya temui keduanya sudah tidur, saya terus memerah susu untuk persediannya minum keduanya. Karena keduanya sudah tertidur, maka saya enggan untuk membangunkannya dan saya pun tidak memberi minum susu itu baik kepada keluarga maupun kepada budak sebelum saya memberi minum kepada ayah dan ibu. Saya tunggu ayah dan ibu hingga terbit fajar barulah bangun keduanya serta kuberikan minuman susu kepada keduanya, padahal sejak malam anak-anak saya menangis dan terisak-isak dengan mengelilingi kaki saya. Wahai Allah, jika saya berbuat demikian karena mengharap ridha-Mu maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini." Maka bergeserlah batu itu sedikit, namun mereka belum bisa keluar dari gua itu.
    Yang lain berkata: "Wahai Allah, sesungguhnya saya mempunyai saudara sepupu yang sangat saya cintai." Pada riwayat lain dikatakan: "Saya sangat mencintainya sebagaimana lazimnya seorang lelaki mencintai seorang wanita, kemudian saya ingin berbuat zina dengannya tetapi ia selalu menolaknya. Selang beberapa tahun ia tertimpa kesulitan kemudian datang kepada saya, dan saya pun berikan padanya 120 dinar dan ia sanggup menyerahkan dirinya untuk diperlakukan apa saja oleh saya kapan saja saya menginginkannya." Pada riwayat yang lain dikatakan: "Kemudian ketika saya berada di antara kedua kakinya ia berkata: "Takutlah kamu kepada Allah dan janganlah kamu sobekkan selaput daraku kecuali dengan jalan yang benar." Kemudian saya meninggalkannya padahal dia adalah seseorang yang amat saya cintai dan saya relakan emas (dinar) yang telah saya berikan kepadanya. Wahai Allah, jika saya berbuat seperti itu karena mengharapkan ridha-Mu, maka geserkanlah batu yang menutupi gua ini." Maka bergerserlah batu itu tetapi mereka belum bisa keluar dari gua itu.
    Orang yang ketiga berkata: "Wahai Alah, saya mempekerjakan beberapa karyawan dan semuanya saya gaji dengan sempurna, kecuali ada satu orang yang meninggalkan saya dan tidak mau mengambil gajinya terlebih dahulu. Kemudian gaji itu saya kembangkan sehingga menjadi banyak. Selang beberapa lama, dia berkata kepada saya dan berkata: "Wahai hamba Allah, berikanlah gaji saya yang dulu itu." Saya berkata: "Semua yang kamu lihat itu, baik onta, sapi, kambing, maupun budak yang mengembalakannya itu semua adalah gajimu." Ia berkata: "Wahai hamba Allah, janganlah engkau mempermainkan saya." Saya pun menjawab: "Saya tidak mempermainkanmu!" Kemudian diapun pergi mengambil semuanya itu dan tidak meninggalkannya sedikitpun. Wahai Allah, jika saya berbuat seperti itu karena mengharapkan ridha-Mu maka geserkanlah batu yang menutupi pintu gua ini." Maka bergeserlah batu itu dan mereka pun bisa keluar dari dalam gua."
    (Hadits riwayat Imam Bukhari dan Imam Muslim)

Kesimpulan

Demikianlah keutamaan niat dan ikhlas dalam beramal seperti yang dikutip dari kitab Riyadhus Shalihin karya Imam An-Nawawy.

Kesimpulan secara umum yang dapat kita peroleh berdasarkan dari ayat-ayat Al Quran dan kumpulan Hadits mengenai keutaamaan niat dalam beramal serta ikhlas dalam beramal adalah:
  1. Allah Ta'ala memerintahkan kita untuk menyembah Allah dengan ikhlas.
  2. Allah Ta'ala Maha Mengetahui apa yang kita niatkan, baik itu kita perlihatkan ataupun yang tersirat di dalam hati.
  3. Setiap amalan yang kita lakukan akan dihitung berdasarkan niat yang tersirat di hati. Oleh karena itu pentingnya menjaga niat agar setiap amalan kebaikan yang kita lakukan hanya karena mengharap ridha dan pahala dari Allah semata.
  4. Ketika kita bersedekah dengan niat ikhlas karena Allah, maka pahalanya akan sesuai dengan niat kita. Jadi kita tidak perlu takut pahala sedekah hilang apabila dalam pelaksanaannya, pihak yang menerima sedekah bukanlah orang yang kita harapkan.
  5. Lebih utama meninggalkan ahli waris dalam keadaan kaya atau cukup harta dan tabungan dibandingkan dengan meninggalan keluarga dalam keadaan miskin sehingga menyusahkan keluarga atau ahli waris yang ditinggalkan.
  6. Pentingnya menjaga hati agar selalu ikhlas, karena Allah tidak melihat bentuk fisik dan wajah, melainkan hati kita lah yang dilihat oleh Allah.
  7. Sholat berjamaah di masjid lebih utama dua puluh derajat bahkan lebih. Setiap langkah yang kita lakukan dalam perjalanan menuju masjid akan menghapus dosa dan mengangkat derajat kita di sisi Allah.
  8. Jika berniat melakukan kebaikan, namun kita tidak jadi melaksanakannya, maka kita akan tetap mendapat 1 pahala kebaikan.
  9. Jika kita berniat melakukan kebaikan dan melaksanakannya dengan ikhlas dan niat yang lurus, maka Allah akan membalas nya dengan 10x kebaikan bahkan sampai dengan 700x lipat bahkan tak terhingga, sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Luas karunia-Nya.
  10. Jika berniat melakukan keburukan namun tidak jadi melaksanakannya karena taat dan takut kepada Allah, maka akan dicatat sebagai 1x kebaikan di sisi Allah.
  11. Jika kita berniat melakukan kejahatan atau keburukan, lalu melakukannya, maka akan dicatat sebagai 1x dosa atau keburukan.
  12. Kesimpulan nomor 8 sampai 11 menunjukkan bahwa rahmat Allah jauh lebih luas dibandingkan murka atau amarahnya.
  13. Boleh berdoa atau meminta kepada Allah dengan menyebutkan kebaikan atau amal sholih yang sudah pernah kita kerjakan.


Wallahu a'lam, semoga bermanfaat dan semoga kita termasuk orang-orang yang meluruskan niat dan ikhlas dalam beramal kebaikan dan beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.


Baca juga pembahasan berikutnya:
Bab 2: Keutamaan dan Cara Taubat dalam Islam

Seri terjemahan kitab Riyadhus Shalihin ke dalam bahasa Indonesia.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ukuran Satuan Kilogram akan Didefinisikan Ulang oleh Ilmuwan Metrologi

Niat dan Keutamaan Puasa Asyura 10 Muharram